Senin, 22 Desember 2014
#21 Dua Puluh Satu
Ditempat berbeda seorang pemuda yatim anak keempat dari lima bersaudara tergesa gesa masuk ke pasar . Dengan rute tercepat yang dihafalnya maka segeralah dia menemukan ibunya yang sedangg berjualan bumbu dapur di salah satu sudut pasar itu.ibunya memberikan sebuah bungkusan untuk dibawa pulang ke rumah kontrakan mereka. Dengan tergesa gesa juga dia segera berjalan pulang dari pasar ke rumah kontrakannya.sampai di sebuah rumah kecil dia masuk dan sudah ditunggu oleh adik laki lakinya. Dibukanya bungkusan dari sang ibu, satu kilo beras, sebungkus tahu mentah dan segenggam cabai rawit.dengan cekatan dia menanak nasi.sambil menunggu nasi matang dia mengambil ulekan, cabai rawit, garam dan bawang putih.ya dia sedang membuat sambel gosreh(sambal mentah).kemudian dia menuangkan air panas dari termos ke mangkuk dan membubuhinya dengan sedikit garam.tahu mentah yang sudah dicuci direndam didalam air garam tadi.saat nasi sudah matang dua bersaudara itu tidak sabar untuk makan.nasi yang masih mengepul panas dengan lauk tahu mentah dan sambel gosreh.sungguh nikmatnya bagi mereka.dan setiap haripun begitu.
kakak perempuan mereka telah menikah dan tinggal bersama suami di daerah kaliwiro.kakak kedua juga sudah menikah dan menetap di kalibeber.kakak ketiga sedang melanjutkan pendidikan di luar kota.tinggalah sang pemuda dan adiknya menemani ibu .ayah mereka telah lama meninggal sewaktu mereka semua masih kecil.beruntung ayahnya adalah seorang mantri kesehatan sehingga masih ada sedikit uang pensiunan untuk bekal mereka sekolah berlima, sisanya adalah hasil keringat ibu berjualan bumbu di pasar.sehabis maghrib sang pemuda selalu menyempatkan ke musholla dekat rumahnya.mengajari anak anak membaca alquran dan turutan(belum ada iqra saat itu).dia juga aktif dalam kegiatan pemuda di kampungnya.tubuhnya yang tinggi besar kontras dengan kepribadiannya yang ramah dan humoris.setelah selesai pendidikannya dia mengabdi di sebuah Madrasah tsanawiyah.selain mengajar dia juga aktif sebagai pembina pramuka.
Suatu saat di madrasah tersebut membutuhkan tambahan seorang pembina lagi.salah satu guru seniornya mengusulkan sebuah nama, dan itu adalah nama sang bunga desa....#kembangdesa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar