Selasa, 16 Desember 2014

#16 Enam Belas


Pagi itu adalah pagi ter-indah sepanjang hidupnya. Sinar matahari mulai mengintip dari balik dedaunan menyapa lembut kepadanya. Kicau burung yang berangkat mencari makan bagaikan nyanyian nan merdu di telinganya.

Alam serasa ikut berdendang seiring hatinya yang berbunga bunga. Pagi itu sang Pemuda di persimpangan tidak hanya menatapnya tapi juga memberikannya sebuah senyuman. Senyuman yang membuatnya tidak fokus pada pelajaran hari itu. Senyuman yang mampu membuat telinganya tidak mendengar obrolan teman teman di sampingnya.senyuman yang menghiasi mimpi-mimpinya. Senyuman yang bisa membuatnya tersipu malu bahkan saat sedang sendirian.

Dia tahu pemuda itu memang ada disana untuk dirinya.dia bisa melihat itu dari matanya yang berbicara. bahasa tanpa kata, itulah perasaan mereka.
 

Badannya tidak terlalu besar, kulitnya kecokelatan, tatapan matanya tajam dan senyumnya tak terlupa-kan.sebelumnya dia jarang sekali melihat pemuda itu.dia hanya pernah mendengar dari pembicaraan tetangga bahwa pemuda itu menuntut ilmu agama di sebuah pondok(pesantren) di luar kota. Dia adalah putra dari seorang Kyai di desanya....‪#‎kembangdesa‬

Tidak ada komentar:

Posting Komentar